cuap,, cuap,, cuap,, tulis,, tulis,, tulis,, mari berbagi informasi,,

My LoveLy Sukkie

My LoveLy Sukkie
SarangHeyo Sukkie

Minggu, 27 Maret 2011

Tentang Novel


C’est La Vie


Saya belajar menggemari menulis. Saya adalah orang yang hobi membaca tetapi tidak hobi menulis. Setiap kali melihat blog punya teman, saya selalu ingin mempunyai blog sendiri. Namun hal itu tidak pernah terwujud karena saya tidak terlalu suka menulis. Sebagai postingan selanjutnya dari blog saya yang sudah lama tidak saya update, saya ingin membahas tentang sebuah novel yang berjudul C’est La Vie.
Novel ini karangan dari Fanny Hartanti. Mungkin ada yang sudah mengenalnya. Fanny Hartanti adalah juga pengarang novel Four Seasons In Belgium. Novel c’est La Vie menceritakan tentang 3 sahabat yang berbeda karakter, yaitu Ayu, Amara dan Karina. Mereka bertemu di negeri orang, yaitu Belanda.
Ayu, seorang gadis asal Jogja yang bertata krama halus, sopan dan sangat menjaga tatakrama bertemu dan menikah dengan seorang pria asal Belanda bernama Tom. Setelah menikah dia ikut Tom pindah dan menetap di Belanda. Kehidupan mereka lancar-lancar saja, sampai suatu hari Tom mengalami kecelakaan dan meninggal. Saat itu juga kehidupan Ayu berubah 180%. Ayu yang dahulu sangat bergantung pada Tom, kini harus mandiri hanya dengan seorang putranya bernama Ben. Beberapa minggu setelah kematian Tom, Ayu memutuskan pulang ke Jogja bersama Ben. Hal ini dia lakukan karena dia ingin mengobati rasa kehilangannya dengan berkumpul bersama keluarganya.
Amara, seorang gadis metropolitan yang dididik disiplin oleh orang tuanya adalah tipikal wanita pekerja keras. Dia sangat cerdas, sehingga mendapatkan nilai dan pekrjaan sangat bagus. Namun ternyata semua itu semua bukanlah yang dia inginkan. Dia mencoba melamar menjadi asisten koki di sebuah restoran. Namun ternyata untuk menjadi seorang asisten koki tidaklah mudah. Dia harus menjadi tukang bersih-bersih dahulu. Setelah giat mengikuti semua perintah koki, akhirnya Amara berhasil menjadi koki yang hebat.
Karina, seorang gadis yang sejak remaja tinggal di Belanda. Dia terbiasa hidup dengan budaya bebas yang dianut warga Belanda. Meskipun keluarganya masih menganut adat ketimuran, namun nampaknya itu tidak berlaku untuknya. Karina seorang wanita sukses dalam pekerjaannya, namun dia kurang berhasil dalam urusan cinta. Dia beberapa kali gagal menikah. Karina tidak percaya diri, bahkan dia tidak percaya jika kekasihnya sangat mencintainya. Dia selalu takut gendut, hitam, dan jelek sehingga dia selalu takut untuk melakukan ini itu seperti makan atau berjemur. Namun, lama kelamaan Karina sadar apabila Kurt, kekasihnya, mencintai dia apa adanya. Dan dia tidak pernah takut untuk menjadi gendut atau hitam.
Menurut saya novel ini layak dibaca. Selain ceritanya yang ringan dan mudah dipahami, novel ini juga mengangkat isu-isu perempuan dan perbedaan budaya barat dengan timur.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar